Kasih Tak Sampai" Menggetarkan Lapangan Merdeka, Project Budaya Sumatera Hidupkan Ruh Adat Melayu


BLT.COM/MEDAN 

Senyap sejenak menyelimuti Lapangan Merdeka, Medan. Ribuan pasang mata terpaku ke panggung, mengikuti setiap gerak tari, dialog, dan lantunan musik Melayu yang mengalun penuh penghayatan. Saat pertunjukan usai, tepuk tangan panjang pun bergemuruh memecah suasana. Itulah sambutan hangat yang mengiringi penampilan Project Budaya Sumatera (PBS) melalui sendratari "Kasih Tak Sampai" dalam ajang Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026.


Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan. Di balik keindahan koreografi, kemegahan tata artistik, dan harmonisasi musik Melayu yang dimainkan secara langsung, tersimpan sebuah pesan yang begitu dalam tentang makna cinta, keluarga, serta nilai-nilai luhur adat Melayu yang perlahan mulai tergerus oleh gengsi dan tuntutan sosial.


Mengangkat kisah dua insan yang gagal bersatu akibat besarnya tuntutan kemewahan pesta pernikahan, "Kasih Tak Sampai" berhasil menggambarkan realitas yang masih banyak dijumpai di tengah masyarakat. Prosesi seserahan yang sejatinya menjadi simbol musyawarah, penghormatan, dan penyatuan dua keluarga berubah menjadi beban karena ambisi mempertontonkan kemewahan. Akibatnya, cinta yang telah diperjuangkan harus kandas sebelum sampai ke pelaminan.


Alur cerita yang sederhana namun sarat makna dipadukan dengan dialog yang emosional, narasi yang kuat, tata cahaya yang dramatis, serta gerak tari yang penuh ekspresi membuat penonton larut dalam setiap adegan. Tak sedikit yang tampak terdiam, bahkan menitikkan air mata ketika kisah itu mencapai klimaksnya.

Pertunjukan istimewa tersebut turut disaksikan Wali Kota Medan, Wakil Wali Kota Medan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, serta perwakilan Kementerian Pariwisata. Kehadiran para pejabat bersama ribuan masyarakat menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki tempat istimewa di hati publik.


Pimpinan Project Budaya Sumatera, Ghandur Siraj, mengatakan keikutsertaan PBS dalam GEMES 2026 merupakan bagian dari komitmen menghadirkan karya seni yang lahir dari riset budaya, kolaborasi, dan kecintaan terhadap warisan leluhur.


Menurutnya, Gelar Melayu Serumpun bukan hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi ruang bertemunya para seniman untuk saling belajar, berdialog, serta memperkenalkan bahwa budaya akan tetap hidup apabila mampu berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya.


Sementara itu, Dramaturg sekaligus Sutradara Erik Nofriwandi menegaskan bahwa karya tersebut lahir dari kegelisahan melihat semakin bergesernya makna adat di tengah kehidupan modern.


"Kami tidak sedang mengkritik adat Melayu. Justru kami ingin mengajak masyarakat kembali memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, yakni musyawarah, keseimbangan, penghormatan, dan kebersamaan. Jangan sampai gengsi dan kemewahan mengalahkan nilai kemanusiaan yang menjadi ruh adat itu sendiri," ujarnya.


Keberhasilan "Kasih Tak Sampai" menjadi salah satu penampilan paling berkesan dalam GEMES 2026 membuktikan bahwa seni tradisi tidak pernah kehilangan relevansinya. Ketika dikemas secara kreatif, berpijak pada riset, dan menyuarakan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seni mampu menjadi media refleksi yang menyentuh hati sekaligus membangkitkan kesadaran.


Melalui karya ini, Project Budaya Sumatera kembali menegaskan komitmennya untuk terus merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera kepada masyarakat yang lebih luas. Sebab, budaya bukan sekadar warisan untuk dikenang, melainkan jati diri yang harus terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi mendatang. (BLt1)

Posting Komentar

0 Komentar