Ketegangan Warnai Tender Jaringan Air Bersih di Stabat, Tiga Korban Dianiaya Puluhan Preman

Aksi Pengeroyokan yang terjadi didepan Kantor Bupati Langkat, Rabu  (8/7/2026). 

BINJAILANGKATTODAY.COM/LANGKAT 

Proses tender proyek pembangunan jaringan pipa distribusi air bersih di Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, yang semestinya berlangsung transparan dan sesuai aturan, justru diwarnai dugaan intimidasi, ancaman, hingga aksi pengeroyokan. Peristiwa tersebut kini menjadi perhatian setelah tiga orang mengaku menjadi korban dan melaporkannya ke Polres Langkat.

Ketiga pelapor, masing-masing berinisial MFR, MSY, dan AA, secara resmi membuat laporan polisi dengan Nomor: LP/B/419/VII/2026/SPKT/POLRES LANGKAT/POLDA SUMATERA UTARA pada Rabu, 8 Juli 2026. Mereka menduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh puluhan orang saat proses pembuktian kualifikasi tender berlangsung.

Kepada wartawan, Jumat (10/7/2026), AA mengungkapkan rangkaian peristiwa yang menurutnya menjadi awal dari insiden tersebut. Ia mengaku sehari sebelum pembuktian kualifikasi, tepatnya Selasa (7/7/2026), dihubungi seseorang berinisial MAB yang disebutnya sebagai "pengantin" dalam proyek pembangunan jaringan pipa distribusi air bersih milik CV Predator Cipta Madani.

Menurut AA, dalam percakapan itu dirinya diminta untuk tidak menghadiri proses pembuktian kualifikasi yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Juli 2026. Sebagai kompensasi, MAB disebut menawarkan penyelesaian dengan meminta AA menghitung seluruh biaya yang telah dikeluarkan selama mengikuti proses tender.

Namun, tawaran tersebut ditolak. AA menegaskan dirinya menginginkan seluruh tahapan pengadaan tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

"Saya menolak. Saya meminta agar proses tender dijalankan sesuai peraturan," ujar AA.

Usai penolakan itu, AA mengaku mulai menerima ancaman. Ia menyebut diberitahu akan ada sejumlah orang yang diturunkan untuk menghalangi dirinya menghadiri proses pembuktian kualifikasi.

Tidak berselang lama, AA mengaku kembali dihubungi seseorang berinisial HS yang disebut sebagai anggota MAB. Dalam komunikasi tersebut, HS kembali meminta agar pihak CV Ashab El Kahf tidak mengikuti pembuktian kualifikasi sehingga paket pekerjaan dapat dibatalkan dan dilakukan tender ulang. Menurut AA, ancaman kembali disampaikan apabila permintaan itu tidak dipenuhi.

Ketegangan mencapai puncaknya pada Rabu (8/7/2026). Saat perwakilan CV Ashab El Kahf menghadiri proses pembuktian kualifikasi, mereka mengaku dihadang sekitar 30 orang. Situasi kemudian berubah ricuh.

AA mengaku menjadi korban pengeroyokan. Ia menyebut dipukul hingga terjatuh, mengalami luka berdarah, bahkan sempat dikejar hingga ke kawasan Kantor Bappeda Kabupaten Langkat.

Sebagai bukti, AA menyatakan pihaknya memiliki rekaman kamera pengawas (CCTV) yang diklaim merekam dugaan aksi penganiayaan tersebut. Rekaman itu, menurutnya, akan diserahkan kepada penyidik untuk mendukung proses penyelidikan.

"Kami berharap Polres Langkat segera memproses laporan ini secara profesional dan menangkap para pelaku pengeroyokan sesuai hukum yang berlaku agar peristiwa serupa tidak terulang, khususnya di lingkungan ULP Kabupaten Langkat," harap AA.

Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak yang disebut dalam laporan tersebut belum memberikan keterangan resmi. Sementara itu, kepolisian juga belum menyampaikan perkembangan penyelidikan atas dugaan intimidasi, ancaman, dan pengeroyokan tersebut. Kasus ini masih dalam penanganan aparat penegak hukum dan seluruh dugaan yang disampaikan para pelapor masih menunggu pembuktian melalui proses hukum yang berlaku. (BLT)

Posting Komentar

0 Komentar